Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

13 Maret 2008

Bergerak

"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)."

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru saya, "ChaNge". Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu.
"Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.

Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.
Saya ulangi pesan saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil."
Ia menatap wajah saya, dan saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak.
Seseorang lalu berteriak, "Kembalikan, kembalikan!"
Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?

Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:
"Saya pikir Bapak cuma main-main ............"
"Nanti uangnya toh diambil lagi."
"Malu-maluin aja."
"Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!"
"Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ..."
"Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya...."
"Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas....."
"Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang........."
"Saya, kan duduk jauh di belakang..." dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras.
Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai "gila" nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes.
"Gila aja..ini kan gara-gara saudara2 Saya tidak mau mengurus saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit.....".
Lantas, apa yang kamu maksud 'sakit'?"

"Orang 'sakit' (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari.....," katanya penuh semangat."
Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari. Jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akan destruktif.

Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya.
Get Started.
Get into the game.
Get into the playing field, Now.
Just do it!.
Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.
Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.

Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah "Winners take action! they simply get up and do what has to be done!".

Selamat bergerak!
Oleh Rhenald Kasali

FINANCIAL ENGINEERING TUKANG OJEK

Kali ini saya sekadar ingin berbagi cerita mengenai keterkejutan saya soal bagaimana seorang tukang ojek melakukan rekayasa keuangan (financial engineering). Sebagai catatan awal, saya tidak ingin memberikan penilaian (judgment) moral apa pun atas orang yang saya ceritakan berikut ini.
Cerita ini saya sodorkan sekadar untuk berbagi bahwa mereka yang secara umum dipandang dengan sebelah mata sekalipun ternyata memiliki kecerdasan keuangan sekelas dengan mereka yang namanya menghiasi halaman-halaman koran ekonomi.
Sekitar November tahun silam saya memesan tukang ojek langganan, Pak Nikmat namanya, via telepon. Saya harus berangkat ke studio kerja (yang masih berada di kompleks yang sama dengan tempat tinggal saya) dengan ojek, tidak dengan sepeda seperti biasanya, karena harus membawa buku dalam jumlah yang cukup banyak.

Kurang dari lima menit setelah ditelepon Pak Nikmat datang, kali ini dengan sepeda motor baru merek Jepang buatan dalam negeri. "Wah, baru nih Pak, motornya...," saya membuka pembicaraan.
"Ah, cuma barang gadean, Pak...," dia menjawab dengan mimik biasanya, malu-malu.
"Lho, barang baru ada yang gadein?" saya sampaikan rasa penasaran saya.
"Orangnya memang seneng begitu, Pak."
"Maksudnya?"
"Kredit motor, terus digadein..."
Saya penasaran. Jadi setelah nangkring di sadel bagian belakang motornya saya terus mencoba mengorek apa yang dimaksud dengan "orangnya senang begitu... kredit motor terus digadein".
Dalam perjalanan ojek yang tidak terlalu lama itu saya berhasil mengorek sejumlah informasi dari Pak Nikmat, informasi yang membuat saya geleng kepala, mengagumi cara kerja orang yang disebutnya sebagai temannya itu.
"Orangnya nembak dua tingkat Pak...," katanya memulai cerita. Menurut dia, teman itu, sebut saja Udin Peang, mengambil kredit sepeda motor dengan "modal" uang muka Rp 500.000. Setelah motor didapat, dia tidak langsung menggunakan motor itu, tetapi menggadaikannya pada Pak Nikmat seharga tiga juta rupiah.
Uniknya, uang gadai ini nilainya tetap, tapi periodenya fleksibel.
Sang empunya motor boleh mengambil motornya kapan saja dengan uang tiga juta rupiah. Loh, kok tanpa bunga? "Kan saya sudah pakai motor ini. Kalau dianggurin memang rugi, tapi kalau buat ngojek ya enggak, Pak..."

Itu tembakan tingkat satu.

Tembakan tingkat duanya adalah, dari uang gadai tiga juta itu dia mengambil yang satu juta rupiah untuk membeli dua sepeda motor lainnya. Anda tahu apa yang dilakukannya kemudian? Dua sepeda motor baru itu "dikaryakan" pada adik dan sepupunya dengan setoran harian. Menurut perhitungan Pak Nikmat, setoran dari dua sepeda motor ini cukup untuk membayar cicilan tiga sepeda motor sekaligus setiap bulan.
"Dia sendiri ngapain sekarang?"
"Dia nggak ngojek lagi, Pak... Katanya sih mau jualan bakso. Bakso sama bumbu jadi dia ambil dari Cileduk pakai modal yang dua juta itu..."

Saya tidak bisa bertanya lebih lanjut karena saya sudah sampai ke tempat kerja saya. Tetapi saya dibuat termangu-mangu untuk waktu yang lama. Bahkan seringkali, terutama ketika menulis artikel keuangan, saya selalu teringat pada cerita Pak Nikmat. Ada rasa penasaran ingin berkenalan dengan sang financial-engineer tersebut. Tetapi, saya menunda keinginan itu karena pelajarannya sudah bisa dirumuskan:
(1) Ternyata modal kecil bukan masalah,
(2) Jangan sepelekan kecerdasan finansial "orang kecil",
(3) Kecerdasan finansial hanya akan efektif kalau disertai dengan keberanian dan aksi.

Bayangkan, dengan modal lima ratus ribu rupiah ada tiga sepeda motor yang produktif, ada tiga pengojek mendapat kesempatan kerja, dan ada satu warung bakso (entah berapa pun skalanya) dengan minimal satu tenaga kerja. Ck...ck...ck...[her]

* Her Suharyanto, editor ekonomi.